24 Jam Kelas Inspirasi Tuban #3

Pertama kalinya kami menginjak tempat yang benar-benar baru dan belum pernah terbayang sebelumnya. Setelah melewati medan yang tidak sulit, tapi menyeramkan (penggambaran macam apa itu?) dengan cuaca sedikit mendung, kami tiba di tempat penginapan, kantor balai Desa Menyunyur. Kami tidak pada formasi lengkap ketika menginap. Dari bersebelas, dua lainnya tidak ikut menginap dan seorang lainnya masih dalam perjalanan dari Surabaya. Namun begitu, sore itu kami sampai bersembilan.

Sayangnya, kantor sedang dalam keadaan terkunci dan gelap gulita. Sangat aneh saat kita mondar-mandir mencari orang untuk jadi objek tanda tanya kami. Untungnya, rumah Petinggi (kepala desa, jawa) berada tepat di sebelah kantor kepala desa. Rumah itu pun tampak gelap dan beberapa detik kemudian, seorang wanita baru datang membuka pintu dari arah luar. Rupanya, beliau adalah Bu Inggi (istri petinggi).

Pertama-tama, kami langsung makan malam mengingat kegiatan sudah berlangsung sejak siang. Bersyukur sekali, di kantor sudah ada air mineral sekardus. Sebelumnya, dari pihak fasilitator sudah memesankan makanan yang malam itu langsung kami nikmati bersama-sama. Dan menyenangkan sekali, karena makan malam dibuka dengan banyolan seputar ikan yang kebetulan kami makan. Dan gurauan itu diramaikan Kak Imam yang berprofesi sebagai penyuluh perikanan.

Nah, bagian paling seru adlah ketika kami berlatih senam untuk acara pembukaan keesokan harinya karena memang dalam rapat sebelumnya kami tidak menentukan dengan spesifik akan mengisi apa untuk opening. Bersyukur, seluruh relawan sangat kooperatif sehingga langsung mengambil peran tanpa ada saling tunjuk.

Karena senam (baca: lagu) yang lagi hitas adalah soundtrack Asian Games, Meraih Bintangnya Via Vallen, kami memutuskan untuk menggunakan lagu itu sebagai senam. Sayangnya, tidak satu pun dari kami yang memiliki video untuk bisa dicontoh gerakannya. Untuk mengarang, kami juga sama sekali tidak bisa (baca: bukan background penari*ngoks). Dan kabar buruknya lagi, signal susah. Jadi, jangan harap bisa buka youtube. Diam sejenak.

Tapi, ponsel Kak Daniar jadi penyelamat. Signalnya full dan kami memanfaatkannya untuk tethering (sekalian nebeng untuk masing-masing ponsel kami). Dan tak lama, video senam pun terunduh. Cuuslah, latihan kilat senam. Yah, walaupun tidak semua ikut berlatih. Canda tawa tidak terelakkan saat mulai senam (baca: goyang). Secara, badannya pada kaku semua, jelas uda kagak ada yang biasa senam. Hahahah

Untungnya kantor balai desa ini letaknya menjorok ke dalam, hingga kebisingan dalam ruangan tidak sampai tembus ke pemukiman warga. Gak kebayang, cekikikan kami sampai tengah malam akan ganggu mereka. Ohya, ini video senam yang masih tersimpan. Modelnya sisa 2ekor, hihihihi.

Okeh! Singkat cerita, usai berlatih, Kak Rizky, yang sorenya masih di perjalanan dari Surabaya, berkabar kalau sudah sampai Tuban kota. Padahal, masih sejam lagi untuk sampai di zona inspirasi. Well, Mba Elsa dan saya memutuskan unyuk menjemput menggunakan mobil. Dan parahnya, para laki-laki dalam rombel kami, malah ikut-ikutan keluar. Tau mereka ngapain? Nebeng liat tipi di rumah tetangga untuk liat timnas tanding. Gemes ga si??😂

Jam 10an lah ya, kami sudah lengkap (yang bermalam di lokasi). Saya, Kak Elsa, Kak Daniar, Kak Dee, Kak Rizky, Kak Agung, Kak Hisyam, Kak Ubet dan Kak Imam tidak langsung tidur. Kira-kira, ngapain coba? Main uno! Kak Hisyam jadi bulan-bulanan pasalnya itunpertama kalinya buat dia. Kocak, kocak banget. Sambil main, sambil cerita juga dan ketawa ketiwi kek gak ada beban. Padahal, besok pagi harus sudah prepare buat hari inspirasinya.

Saya belum cerita kamar mandinya …!
Nah, ini bagian pentingnya. Di kamar mandi gak ada lampunya dan lucunya lagi, gak ada kran airnya. Pengen ketawa kan, rasanya. Iya, gak ngeluh, tapi ketawa. Berasa lucu aja kalau sampai besok gak kena air sama sekali. Hihihihi

Ternyata dan ternyata, di kamar mandi emang gak ada kran karena harus dialirkan dari pompa yang ada di halaman depan kantor. Sudah disediakan pipa panjang yang bisa menembus sampai kamar mandi. Tapi untuk lampu, memang tidak ada. Untunglah kita hidup di mana tak seorang pun tak memegang smart phone. Alhamdulillah, urusan air, baik-baik saja. 

Yuhuuui, udah pagi ajah.
Mulai riweuh persiapan. Kami udah yang sok yess banget. Meski cuaca mendung, bukan, bukan, itu cuaca bersahabat, kami masih semangat. Dan, zonk! Di sekolah, kantor masih terkunci. Hahaha, pendidikan negeriku…😂 Anak-anak udah duduk manis di depan sepanjang kelas kemudian mereka menyapu halaman ketimbang nganggur. Ruarr biasa!!

Betapa menyenangkannya menjadi bagian dari perubahan kecil yang bisa kami lakukan. Mengorbankan sehari cuti, rasa-rasanya terlihat sangat kecil untuk bisa memberikan sumbangsih besar. Dari sini, kita bisa menilik pendidikan negeri yang masih cukup terbelakang. Dengan kegiatan seperti inilah, yang kelak memberikan dampak.

Cerita berakhir begitu kami terpisah usai refleksi yang digelar di kantor Kecamatan Grabagan. Dan yang tersisa tinggal cerita dan kenangan. Semoga, kemanfaatan juga mengiring. Apalah tujuan hidup jika tak memberikan arti untuk orang lain?

Maka, nikmat Tuhan manakah yang hendak didustakan?
🖤
Ditulis awal Desember dan disempurnakan di Tuban 02012019
#muthyasadeea #tulisandee #ceritadee
#kelasinspirasi #kelasinspirasituban3

Sumber : http://muthyasadeea.blogspot.com/2019/01/24-jam-kelas-inspirasi-tuban-3.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *